Breaking News
qq28889
Situs agen poker online terpercaya
Agen poker online terbesar
Agen poker online terpercaya
Agen Poker Terpercaya
Agen BandarQ Online
Agen Judi Bola

Janda Montok Mendesah Keenakan

Cerita Sex Ini Berjudul”Janda Montok Mendesah Keenakan”Cerita Dewasa,Cerita Sex,Cerita Panas,Cerita bokep,Cerita Ngentot,Cerita ABG,Cerita Sedarah,Cerita Tante,Cerita Sex Selingkuh,Cerita Terbaru 2017

 

Cerita Sex-Saat itu suasana di pagi terasa sejuk mentari terlihat indah indahnya seperti wajah tante Githa yang aku lihat dia sedang menyirami bunga di tamannya, dia Nampak serius menikmatai keindahan bunganya, aku yang habis mandi dan menyeduh teh sambil menghirup udara segarnya, aku menghampiri tante Githa hanya untuk sekedar menyapa.

Janda Montok Mendesah Keenakan

Cerita Sex Janda

“Selamat pagi tante Githa, serius banget memperhatikan bunganya” sapaku.

Dia masih cuek tanpa membalas pertanyaanku yang pertama, aku sapa dia lagi dengan kata kata.

“Mau gak aku buatkan teh” Jawab singkatnya “Ndak usah”

Hmmmm oya dah tan”dilanjut aja jawabku.

Dalam hatiku biasanya pagi pagi hari minggu kelompok tante tante sedang lari pagi , tapi hari ini kok aku tidak melihatnya??fikirku dalam hati.

Aku kembali memperhatikan tante Githa yg membelakangiku. Mulai dari betisnya yg putih mulus meskipun nampak kurus, pahanya yg lebih mulus dari betisnya, bokongnya meskipun terbalut clana pendek, namun trlihat jelas lekukannya.

” Coba dia bisa aku tiduri seperti tante Rita ya? ” gumanku dalam hati. Belum habis lamunanku, tiba tiba kulihat tubuh tante Githa terhuyung lemah ingin tersungkur. Dengan cepat aku meloncat dan memegangi tubuhnya yg nyaris tersungkur itu, meninggalkan sisa lamunan cabulku.

Kurangkul tubuhnya yg mulus dan trlihat lemas sekali. “Ga papa kan tan??” tanyaku penuh rasa khawatir, seraya memapah tubuh tante Githa.

“Kepalaku terasa pusing Fad” jawab tante Githa lemah.

“Ya udah, istirahat aja didalam” saranku sambil terus memapahnya ke dalam rumah.

“Akhirnya aku bisa merangkulmu” ucapku dalam hati.

Ada sejuta kebahagian dihatiku karna mampu merangkul tubuh si angkuh tersebut. Setelah berada didalam rumah, dengan perlahan kududukan tante Githa disofa ruang tamu.

Dengan menarik nafas tante Githa duduk dan bersandar pada sandaran sofa. Setelah itu aku melangkah meninggalkannya sendiri. Tak berapa lama aku kembali dengan segelas air hangat dan menghampiri tante Githa yg tengah bersandar disandaran sofa.

“Minum dulu tan, biar enakan!” ujarku sambil menyerahkan gelas berisi air hangat yang kubawa. Tante Githa pun meminum air hangat yang kuberikan.

“Makasih ya Fad” ucapnya lemah sambil meletakan gelas dimeja yg ada didepannya.

“Kepalanya masih pusing ga tan!?” tanyaku.

Tante Githa hanya menganggukan kpalanya.

“Mau dipijatin ga!?” tanyaku lagi.

“E, em” jawab tante Githa perlahan seakan tengah menahan sakit. Aku pun sgera memijat mulai dari kepalanya dengan perlahan lahan, kemudian dahinya yg dia bilang merupakan pusat rasa sakitnya.

“Wah, kenapa tante Fad!?” tanya Nita yg baru saja pulang.

“Tadi si tante hampir jatuh, kepalanya pusing Nit!” jawabku.

” Terlalu capek kali!? ” ujar Nita sambil melangkah kedapur.

“Dah agak mendingan Fad” jelas tante Githa dengan mata terpejam, menikmati pijatan pijatan jariku. Terasa hangat dahinya bersamaan dengan rasa hangat yang menjalari tubuhku.

Harum aroma tubuh tante Githa terasa menusuk kedua lobang hidungku. Membuat aku ingin lebih lama lagi memijat dan dekat dengannya.

“Masuk angin kali tan, dahinya agak anget ne!? ” jelasku, berupaya memancing agar niatku tercapai.

“Iya kali? “ujarnya pula, seakan mengerti akan arti ucapanku. Membuatku makin berani lebih jauh.

“Mau dikerikin ga!?” tanyaku dengan penuh harap kepadanya.

“Memang kamu bisa!?” tante Githa balik bertanya. Membuat hatiku terasa berdebar tak karuan.

“Ya bisa… ” jelasku dengan cepat, takut tante Githa berubah fikiran lagi.

“Ya udah, tapi dikamar ya…, ga enak disini” pinta tante Githa. Membuat hatiku berdebar makin cepat. Dengan perlahanku papah dia melangkah menuju kamarnya. Akupun berusaha untuk menahan dan menenangkan hatiku.

Yang mulai dirasuki niat dan fikiran kotorku. Setelah berada didalam kamar, kusarankan agar dia istrahat diranjangnya. Tante Githa pun merebahkan tubuhnya seraya bernafas panjang. Seolah olah ada beban berat yang dibawanya.

Aku segera berlalu mengambil obat gosok dan coin untuk mengerik tubuh tante Githa. Setelah kudapati semua yang kubutuhkan, aku kembali menghampiri tante Githa yang tengah menanti. Dengan memberanikan diri aku memintamya agar dia melepaskan pakaian yg dipakainya.

Dia pun perlahan melepaskan pakaian atau baju yang dipakainya. Sehingga tante Githa kini hanya mengenakan bra yang berwarna pink dan clana pendek saja. Ada getaran hangat menjalari seluruh tubuhku, saat menyaksikan tante Githa membuka bajunya.

Hingga membangunkan kejantanan dan hawa nafsuku. Yang memang telah mengendap dibenakku sejak awal, ketika memperhatikan dia ditaman.

Dengan perasaan yang tak menentu dan dibayangi nafsu dibenakku. Akupun mulai mengusap …..usap punggung mulus yang membelakangiku, dengan hati hati sekali.

“Tali branya dibuka aja ya tan??” pintaku penuh haraf sambil terus mengusap dan mengerik punggung bagus dihadapanku. “Iya… ” jawabnya lirih.

Menahan kerikan dipunggungnya, entah sakit atau geli aku tak tau. Yang pasti tanganku segera melepaskan kait tali branya, sehingga membuat branya melorot menutupi sebagian payudaranya yang bulat dan berisi. Seperti payudara milik gadis kebanyakan.

Setelah tiada lagi penghalang dipunggungnya, akupun membalurinya dengan minyak gosok. Dan jari jemarikupun menari membentuk garis dipunggung tante Githa. Sambil sekali kali mataku melirik kearah payudaranya yang berusaha ditutupi dengan bra dan kedua telapak tangannya.

Tapi hal tersebut membuatku semakin terangsang didorong rasa penasaran yang teramat. Sementara tante Githa hanya terdiam seraya memejamkan matanya yang bulat dan indah.

” Pelan pelan ya Fad!? ” pintanya masih dengan mata yg terpejam.

Tiba tiba pintu kamar perlahan terbuka, nampak Nita tengah berdiri dimuka pintu.

“Tan aku mo kerumah teman dulu ya!?” ujar Nita berpamitan seraya matanya melirik kearahku.

” balas tante Githa tanpa berpaling kearahnya.

Kemudian secara perlahan Nita menutup pintu kembali dan berlalu pergi. Jari tanganku mulai nakal terhadap tugasnya, jariku terkadang nyelinap dibawah ketiaknya berusaha meraih benda yang bulat dan padat berisi yang ditutupinya.

Tapi tangan tante Githa terkadang berusaha menghalanginya, dengan merapatkan pangkal lengannya.

“Jari kamu nakal ya Fad!? ” ucap tante Githa setengah berbisik seraya melirik ke arahku.

Membuatku tersipu malu.

“Habis ga kuat sich, tan…” jawabku jujur.

Tapi tante Githa malah melepaskan branya sehingga kini payudaranya nampak polos tanpa pelindung lagi. Dan langsung menjadi santapan kedua mataku tanpa berkedip.

Langsung membuat hatiku berdebar debar menyaksikan pemandangan tersebut.

“Sekarang bisa kamu pelototin puas dech!!” ujar tante Githa tak lagi menutupi buah dadanya dengan kedua telapak tangannya lagi. Jantungku terasa begitu cepat berdetak dan membuat lemas seluruh persendianku.

Kontolku berlahan tapi pasti mulai berdiri tegak mengikuti dorongan hasratku. “Memang dah selesai ngeriknya Fad!?” tegur tante Githa mengingatkanku.

Membuat aku segera melanjutkan perkerjaanku yg tertunda sesaat. Hampir seluruh bagian belakang tubuh tante Githa telah kukerik dan berwarna merah bergaris garis. Hanya bagian bokongnya yg luput dari kerikanku karna terhalang dengan clana pendek serta CD yang dikenakannya.

Tapi belahan bokongnya telah puas kuplototin. Akhirnya pekerjaanku selesai juga. Kemudian dengan perlahan jari jariku memijati pundaknya.

Tante Githa menundukan kepalanya, sekali sekali terdengar suara dahak dari mulutnya. “Sudah Fad!” perintahnya, agar aku menyudahi pijatanku. Dengan perasaan malas akupun menghentikan pijatanku dan segera membrsihkan sisa sisa minyak dikedua telapak tanganku.

” Cuci tanganmu dulu biar bersih sana!!” pinta tante Githa sekaligus perintah. Akupun beranjak pergi kekamar mandi yang memang ada didalam kamar tersebut. Setelah usai mencuci seluruh tanganku hingga benar benar bersih.

Akupun kembali menghampiri tante Githa yg tengah telentang diatas ranjang masih dengan keadaan separuh bugil. Seperti saat aku tinggalkan kekamar mandi. Hingga payudaranya yang bulat dan berisi nampak membusung besar didadanya, dengan puting yang berwarna coklat susu.

“Ayo Fad, kamu mau mainin ini kan!?”.

Aku juga mau kok!?” ucap tante Githa sambil meremas salah satu payudaranya hingga putingnya menonjol kearahku. Akupun mendekat menghampirinya dengan perasaan nafsu. Membuat kontolku kian berdiri dan mengeras kencang dibalik clanaku.

Akupun tak menunggu lebih lama, segeraku remasi payudaranya yg menantang. Tante Githa bergelinjang saat telapak tanganku mendarat dan meremas kedua payudaranya.

” Achh.., iya Fad trussss ” rintihnya perlahan. Jari jemariku kian liar meremasi seluruh daging bulat yang padat brisi.

JariQ juga memainkan putingnya yang mulai mengeras.

” Iya,.., ayo diisep Fad.., aaaayooo “pinta tante Githa dengan nafas tak teratur. Akupun segera menjilati dan mengisapi puting payudaranya.

“Aduhhh…, enaaaak, trusss….” desah tante Githa seraya memegangi kepalaku. Aku semakin bernafsu dengan puting yang kenyal seperti urat dan menggemaskan. Sementara tante Githa semakin mendesah tak karuan.

Tangan kananku meluncur kearah selangkangan dibawah pusar, terus menyusup masuk diantara clana dan CD tante Githa.

Hingga jari jariku terasa menyentuh rumput halus yang cukup lebat didalamnya. Tante Githa membuka pahanya tak kala jari telunjukku berusaha masuk kedalam lobang yang ada ditengah bulu bulu halus miliknya.

“Aowww…” jerit kecil tante Githa saat telunjukku berhasil memasuki lobang memeknya. Dia pun mnggeliatkan tubuhnya penuh gairah nafsu. Sementara kontolku semakin mengeras hendak keluar dari bahan yg menutupinya.

Cukup lama jari telunjukku keluar masuk didalam memek tante Githa, hingga lobang itu mulai terasa basah dan lembab. Sampai akhirnya tangan tante Githa menahan gerakan tanganku dan meminta menyudahinya.

“Aaaachhh.., udaahhh., Faddh.., aaachh” rintih tante Githa. Akupun menarik tanganku dari balik clananya dan melepaskan putingnya dari mulutku. “Buka pakaianmu dong, Fad!!” seru tante Githa seraya bangkit dan melepaskan clana pendek serta CDnya.

Sehingga dia bugil dan nampak rumput hitam ditengah selangkangannya yang baru saja ku obok obok. Akupun melepaskan semua pakaianku dan bugil seperti dirinya. Dengan senyum manis kearahku, tante Githa mendekat dan berjongkok tepat didepan selangkanganku.

“Aouw, gede banget..!!” seru tante Githa seraya telapak tangannya meraih kontolku yang telah berdiri dan keras. Dengan tangan kanan dia memegang erat batang kontolku, sedangkan telapak kirinya mengelus elus kepalanya.

Hingga kepala kontolku terasa berdenyut hangat. Kemudian dimasukan kontolku kedalam mulutnya seraya matanya melirik ke arahku.

“Agghhh… “aku melengguh tak kala seluruh kontolku tenggelam masuk kedalam mulutnya. Darahku berdesir hangat menjalari seluruh urat ditubuhku.

Aku hanya dapat memegangi kepala tante Githa, meremas serta mengusap usap rambutnya yang ikal sebahu. Sementara tante Githa semakin liar, sebentar mengulum dan mengemud seakan dia ingin melumat seluruh kontolku.

Ternyata dia lebih buas dari tante Rita. Terkadang dia menjilati dari batang hingga lobang kencing dikepalanya.

” Aaaaaaa… ” erangku menahan rasa nikmat nan teramat. Terasa tubuhku melayang jauh tak menentu. Entah berapa lama tante Githa mengemut, menjilat dan mngulum kontolku. Yang jelas hal ini membuat tubuhku bergetar dan hampir kejang.

” Gantian dong tan, aQ juga mau jilatin memekmu! ” rengekku, hampir tak mampu menahan nafsuku. Ingin rasanya memuntahkan keluar sebanyak banyak.

Agar tante Githa mandi dengan air maniku. Tante Githa segera bangkit berdiri meninggalkan kontolku yang masih berdiri tegak. Kemudian aku meminta agar dia duduk dikursi tanpa lengan yabg ada. Akupun berjongkok menghadap memeknya yang dihiasi bulu lebatnya.

Kedua kaki tante Githa bertumpu pada kedua bahuku. Maka mulutku mulai menjarah memek yang telah menganga terkuak jari jemariku, hingga nampak jelas lobang memek yang berwarna merah dan lembab. Lidahku pun mulai menjelajahi dan menjilati lorong itu.

“Aaaaowwh…, aaaa…, iyyyaaa.., trussss, aassstttssh” desah tante Githa saat lidahku bermain menjilati lobang memeknya.

“Aduuuhh,…, truuusss, lebihhh daallaaamm, aaah,… enaaakhh, agh, agh, aghhhh” rintihnya pula sambil meremas dan menjambaki rambut dikepalaku. Lidahkupun semakin liar dan berusaha masuk lebih dalam lagi.

“Aaaaghh,.., gilaaaa…, enaaaksss,.., ubss,.., aaaaachghhh” suara tante Githa tak karuan. Lidahku berhenti menjilati dinding lobang memek, kini berpindah pada daging mungil sebesar biji kacang hijau. Ku jilati itil yg berwarna merah dan basah dengan air mazinya dan air liurku.

“Aughh…..” suara tante Githa seperti tersedak sambil merapatkan kedua pahanya, hingga menjepit leherku, ketika ku isap itilnya.

” Aaaaa.., auwghhh…., yaaaaa ” ucap tante Githa lirih.

” Udahhh…, Fad…, udddaah Faadd ” rengek tante Githa seraya mndorong kepalaku dengan kakinya yg terkulai lemas dibahuku.

Akupun melepaskan isapan mulutku pada itil tante Githa dan bangkit berdiri dihadapannya dengan kontol yang masih tegak dan keras. Kemudian meminta tante Githa agar bangkit dari duduknya. Kini aku yg menggantikan posisinya duduk dikursi.

Tante Githa naik keatas pahaku dan tubuhnya menghadap kearahku, hingga tubuh kami saling berhimpitan. Kemudian tante Githa membimbing kontolku masuk kelobang memeknya dngan jarinya.

” Aagghhsss.” rintih kecil tante Githa ketika kontolku masuk menusuk memeknya. Tak lama kmudian bokongnya mulai turun naik, mengesek gesek kontolku didalamnya. Aqpun mengimbanginya dengan memegangi pinggulnya membantu bokongnya turun naik.

” Aachhh.., yaaaa, oohhh, enaaak Fadd “. ” Auwwghhh…., aaaaaa…, oohhhh, yaaa ” racau tante Githa tak karuan jika tubuhnya turun mnenggelamkan kontolku dimemeknya.

“Aauwww, aku ga tahan ne Fadd,…, aaaauwww, yessss ” rintih tante Githa sraya menggerakan bokongnya dengan cepat. Akupun membalas reaksinya, dengan melumat lagi payudaranya

“Aaaaaawhhh……..”erang tante Githa sambil menekan bokongnya lebih rapat dengan selangkanganku. Akupun mengejang menahan tekanan bokong tante Githa.

“Aaaachhhh…….” akhirnya aku tak mampu lagi membendung cairan kental dari dalam kontolku. Kamipun saling berpelukan dengan erat beberapa saat dengan bercampur peluh masing masing.

Setelah cukup lama kami berpelukan, kamipun bangkit dengan malas, enggan beranjak dari suasana yang ada. Setelah itu kamipun mandi membersihkan tubuh kami masing masing yang basah dengan peluh syurga.

 

Cerita Dewasa,Cerita Sex,Cerita Panas,Cerita bokep,Cerita Ngentot,Cerita ABG,Cerita Sedarah,Cerita Tante,Cerita Sex Selingkuh,Cerita Terbaru 2017

Baca Cerita Sex Lainya di www.sukasex.info

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*